Peran reCOnsult Dalam Pembangunan PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 (Ultra Supercritical)

2019-10-08


Saat ini kebutuhan akan energi semakin tinggi, tentunya hal tersebut harus di dukung dengan teknologi pada mesin pembangkit listrik agar lebih efisien dalam menggunakan bahan bakar, namun menghasilkan daya yang maksimal. Pada tahun ini, sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan teknologi Ultra Supercritical direncanakan mulai beroperasi dan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
  
Teknologi Ultra Supercritical merupakan teknologi pembangkit listrik yang memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik dalam menghasilkan energi listrik apabila dibandingkan dua teknologi pembangkit listrik lainnya, yaitu teknologi Subcritical dan Supercritical. Teknologi ini memiliki tekanan dan temperatur uap di atas 26 Mpa dan 560 Celcius, sehingga efisiensinya adalah sekitar 42% - 45%. Selain itu, boiler Ultra Supercritical di desain dengan konstruksi metalurgi yang sangat baik karena tidak ada steam drum, sehingga terlindungi dari reaksi kerak dan korosi. Sama seperti Ultra Supercritical,  boiler Supercritical tidak membutuhkan steam drum, sehingga sering disebut once through boiler. Teknologi ini mencapai keadaan critical pada tekanan 22.1 Mpa dan memiliki efisiensi berkisar 37% - 42%. Teknologi lainnya adalah Subcritical, dimana teknologi ini membutuhkan steam drum. Operasi subcritical boiler ini adalah < 22.1 Mpa dan memiliki efisiensi 32% - 38%. Di Pulau Jawa, ada beberapa PLTU yang menggunakan teknologi USC antara lain PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 & 10, PLTU Cirebon 2, dan PLTU Cilacap.

PT Sumber Segara Primadaya (S2P) dengan pembangkit listrik tenaga batubara pertamanya yang berkapasitas 2x300 MW di Cilacap, adalah salah satu generasi pertama pengembang IPP di Indonesia. Saat ini, S2P adalah salah satu pengembang IPP terbesar setelah meningkatkan kapasitas pembangkit PLTU 1x660MW yang telah dioperasikan secara komersial sejak Juni 2016 dan PLTU 1x1000MW yang telah memulai konstruksi sejak Februari 2017. Semua pembangkit listrik berada di lokasi yang sama. Khusus untuk PLTU 1x1000 MW, menggunakan teknologi Ultra Supercritical yang lebih ramah lingkungan dibandingkan generasi PLTU sebelumnya. 

Proses pengembangan proyek PLTU Cilacap ini diberi nama PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2. PLTU ini telah melibatkan pihak asing maupun lokal dalam pengerjaannya. Adapun kontraktor EPC-nya adalah China National Chemical Engineering Co. Ltd. (CNCEC), sedangkan  dalam pekerjaan Engineering Design & Construction Supervision ditangani oleh reCOnsult dengan berbagai layanan yang diberikan, diantaranya adalah Feasibility Study, Technical Advisory dimana reCOnsult membantu S2P melengkapi form teknis dalam PPA dan mendampingi S2P dalam mempresentasikan PPA kepada klien (PT Perusahaan Listrik Negara/PLN), Technical Assistance yaitu mendampingi S2P melakukan negosiasi kontrak EPC dengan kontraktor EPC, Engineering/Design Supervision yaitu memastikan desain EPC sesuai dengan kontrak, standar, dan peraturan yang berlaku, serta Construction Supervision dimana reCOnsult melakukan review material yang digunakan oleh kontraktor EPC, mengawasi instalasi dan konstruksi, serta melakukan monitoring progress report di setiap bulannya.  Saat ini, pengembangan proyek PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 berada pada tahap sinkronisasi setelah sebelumnya melalui tahap commissioning. 

PLTU Cilacap Ekspanse Fase 2 merupakan bagian dari pengembangan PLTU Cilacap yang dioperasikan sejak tahun 2006. Sebelumnya, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) melalui S2P telah mengembangkan tiga PLTU di Cilacap yang meliputi PLTU Unit 1 (300 MW) yang beroperasi pada 6 April 2006, PLTU Unit 2 (300 MW) pada 2 September 2006, serta PLTU Cilacap Ekspansi fase 1 dengan kapasitas 660 MW yang beroperasi pada 10 Juni 2016. Dengan demikian, pada nantinya akan terdapat sebanyak 4 PLTU dengan total kapasitas sebesar 2260 MW di Cilacap apabila PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 sudah beroperasi nanti. Diperkirakan, pembangkit listrik yang dinamakan PLTU Cilacap Ekspansi Fase 2 ini sudah bisa beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada Oktober 2019.